sinopsis film

SINOPSIS FILM SANG PENCERAH




 Dikisahkan, seorang bayi kecil lahir di Yogyakarta pada 1 Agustus 1868. Kehadirannya disambut keluarga besar yang merupakan golongan kyai karena ayahnya adalah KH Abu Bakar, seorang ulama dan khatib terkemuka di Masjid Besar Kasultanan Yogyakarta. Bayi kecil itu diberi nama Muhammad Darwis.

Darwis muda (diperankan oleh Ihsan Tarore) sudah mulai peka dengan keadaan lingkungan sekitarnya yang mencampuradukkan nilai-nilai Islam dengan unsur kejawen. Mulai dari: harus tunduk dan bungkuk ketika kyai datang (diagungkan seperti Tuhan), penyerahan sesajen di bawah pohon, mandi (padusan) di pemandian sebelum puasa Ramadan, dan lainnya.

Usia 15 tahun, Darwis berangkat ke Mekkah untuk naik haji. Setelahnya, ia langsung belajar agama di Mekkah selama 5 tahun.

Pada tahun 1988, Darwis kembali ke kampung halamannya dengan menyandang nama baru pemberian ulama di Arab, yakni Ahmad Dahlan. Ia juga datang dengan membawa biola (sesuatu yang menarik di mata saya).

Di kampungnya, yakni kampung Kauman, ia merasa bahwa beberapa hal cukup berbeda daripada apa yang ia pelajari selama ini di Mekkah. Mulai dari cara penyampaian pengajaran, arah kiblat, dan lainnya.

Cara mengajar, berbeda dengan khatib lainnya. Bila khatib lainnya memberikan materi pelajaran yang sudah disiapkan, lain halnya dengan Ahmad Dahlan yang mempersilakan santri-santrinya untuk bertanya terlebih dahulu. Barulah ia menjawab. Ia menjawab semua pertanyaan dengan pelan dan menenangkan.

Ada juga soal kiblat. Orang-orang tahunya kiblat menghadap ke barat. Padahal harus bergeser sebesar 23 derajat dari arah barat. Kalau tetap mengarah ke barat, maka akan mengarah ke Afrika, bukan ke Masjidil Haram. 

Tentang hal ini, banyak orang yang menentang tindakan Ahmad Dahlan. Bahkan ia dan santri-santrinya disebut kafir. Tak hanya itu, langgar atau masjid kecil yang ia bangun justru dirobohkan oleh warga lain.

Apalagi saat Ahmad Dahlan mulai mendirikan sekolah atau madrasah, yang di dalamnya ada meja, kursi, dan papan tulis. Malah disebut kafir karena menggunakan barang-barang buatan orang Belanda. Yang jelas, Ahmad Dahlan sempat dijuluki sebagai kiai kafir. Sedihnyaaa.

Tidak semua kakak adiknya mendukung jalan hidup yang diperjuangkan oleh Ahmad Dahlan. Satu-satunya pengikut yang setia adalah istrinya, yakni Nyai Siti Walidah. Oh tentu saja, ada 5 santrinya yang setia.

Ahmad Dahlan juga mendapatkan pertentangan oleh para kiai dari Masjid Agung di Yogyakarta. Beberapa di antaranya rupanya masih saudara sendiri. Jadi, cobaan yang dialami Ahmad Dahlan datang silih berganti.

Pada tahun 1909, Ahmad Dahlan bergabung dalam organisasi Budi Utomo. Dia sepakat dengan cita-cita Budi Utomo yang bercita-cita ingin mensejahterakan Indonesia di bidang pendidikan dan kesehatan.

Lalu pada tahun 1912, beberapa pendukungnya justru mendesak Ahmad Dahlan untuk mendirikan organisasi sendiri. Lalu ia mendirikan Muhammadiyah, artinya pengikut Nabi Muhammad SAW.

Dengan mendirikan organisasi tersendiri, ia dan santrinya lebih leluasa mensyiarkan ajaran agama Islam. Mulai dari mengajak anak-anak miskin belajar dan sekolah, mengumpulkan donasi dari para donatur, memberi makan kaum fakir miskin, dan lainnya.

Dikisahkan di film ini, Kyai Penghulu Kamaludiningrat sempat salah paham dengan Ahmad Dahlan. Beliau mengira Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah untuk menjadi residen Yogyakarta. Padahal tulisan yang benar adalah The President (ditulis dalam bahasa Inggris).

Pada akhirnya, Kyai Penghulu Kamaludiningrat mewakili sejumlah kiai, saling meminta maaf dengan Ahmad Dahlan, lalu bersepakat bahwa mereka akan mensyiarkan agama Islam dengan cara terbaik menurut masing-masing.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peran teknologi dalam pelestarian Budaya Lokal